Kok Masih Ada yang Berbisnis Musibah?

rebutia1m.jpg Warga sekitar Porong, Sidoarjo, boleh jadi sudah kehilangan kepercayaan terhadap siapa saja karena perlakuan yang mereka terima tidak seperti yang seharusnya diterima oleh bangsa manusia. Persoalan menjadi gelap karena penderitaan yang mendera mereka sepanjang setahun terakhir sudah mecapai ubun-ubun.

Pernahkah kita membayangkan keluarga kita dirampas? Tanah kita dilenyapkan? Rumah kita ditenggelamkan? Kampung halaman dimusnahkan? Masa depan kita dibuat gelap? Tempat mengadu tidak ada? Maka, jadilah kita menyendiri di dalam kesendirian. Kalau mental dan spiritual kita tertata baik, maka kita bisa menyendiri dengan Tuhan. Tetapi kalau mental dan spiritual kita tidak memiliki daya tahan yang memadai, maka akan terjadi krisis mental dan spiritual sekaligus.

Lumpur panas sudah setahun lebih membuat semua yang saudara-saudara kita miliki sirna musnah. Tetapi belum juga muncul keputusan yang, minimal, membuat korban bisa bernapas lega. Jangankan mencari solusi holistik agar perut bumi itu berhenti memuntahkan lumpur panasnya –sesuatu yang tampaknya mustahil dibereskan dala waktu dekat–, memberikan jalan keluar untuk ganti rugi atas kepemilikan rakyat yang sudah disemena-menakan saja kita tidak bisa.

Dalam kaca mata awam, apa susahnya pemerintah sebagai pemangku amanat mendesak pihak-pihak terkait untuk segera membayarkan ganti atas banyak macam kerugian yang diderita masyarakat. Kerugian itu sekarang bukan saja soal materi berupa tanah, lahan, rumah, sekolah, fasilitas umum dan lain sebagainya, tetapi juga kerugian itu sudah menyentuh hal-hal di luar itu semua. Memang jujur diakui, tidak sedikit di antara kita yang menyisakan sedikit perhatian untuk memikirkan nasib mereka di masa depan. Sudah banyak pula saudara-saudara dekat yang mengulurkan tangan untuk menjemput mereka dari ketertindasan sistem dan mekanisme penanggulangan bencana.

Banyak pula yang datang dengan kebeningan hati untuk merasakan betapa beratnya derita yang mendera mereka. Tetapi begitulah adanya. Setiap kali sebagian kita diterpa musibah, selalu ada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Mereka, termasuk kategori kelompok atau oknum bagian masyarakat yang menjadikan musibah sebagai ‘’sebuah bisnis perniagaan”. Mereka mengambil begitu banyak peran sehingga terkesan merekalah korban sesungguhnya dari lumpur panas itu.

Seperti ingin mengambil peran seorang pahlawan, tangan-tangan jahil yang mengail di air keruh ini, bertindak pura-pura sebagai negosiatorlah, penengahlah, pemberi solusilah, pelindunglah serta sebutan-sebutan lainnya yang membuat mereka bisa terlibat sampai ke soal-soal teknis sekalipun. Bagaimana mungkin orang-orang seperti ini dengan ketebalan muka, bisa memberikan perhitungan bisnis untuk proses ganti rugi?

Bagaimana bisa, ketika harapan sudah tidak tersisa, mereka berlagak menjadi guru yang bijak dengan menenangkan warga agar berbesar hati untuk menerima sekian dari sekian kerugian yang dialami warga. Maka, pantaslah kalau warga yang menjadi korban justru bertambah menderita karena kelakuan serta tindakan biadab mereka. Ironisnya, mereka seperti bergerak bebas tanpa bisa dicegah oleh siapa pun, mungkin termasuk oleh aparatur pemerintah. Ya Allah! Bagaimana mungkin musibah yang Engkau kirimkan malah dijadikan ajang bisnis?

Memang, kendati banyak saudara kita yang datang dengan keikhlasan dan ketulusan untuk membantu para korban, tetapi sungguh juga terdapat beberapa lainnya datang hanya untuk memberikan dengan berharap mendapatkan sesuatu. Padahal Allah jelas-jelas melarang tindakan semacam ini. ”Walaa Tamnun Tastaktsir” (Jangalah engkau memberi tetapi berharap sesuatu yang lebih banyak). Ironisnya, sudah tidak ikhlas dan tidak tulus, masih pula saling menyalahkan.

Sadarkah kita apa yang kita sajikan ini justru menambah kepiluan saudara-saudara kita? Kita seperti tak pernah belajar dari sejarah; sudah sekarat, kita masih saja berteori soal siapa, cara serta waktu untuk menolong korban. Tidak adakah kebijakan untuk safety first. Selamatkan dulu! Ada apa ini sebenarnya? Kalau itu yang kita lakukan, itu sungguh jauh dari kategori ketulusan sejati. ”Al-Mubaadarotu ‘alamatul Haqiiqati” (Kecepatan bertindak adalah tanda kesejatian dan ketulusan).

Dari gambaran yang tersajikan selama musibah ini muncul, para korban bencana serta masyarakat yang turut berduka, bisa dengan mudah melihat siapa yang tulus, ikhlas dan jujur. Jangan pernah mereka berpikir bahwa rakyat tidak tahu apa yang mereka simpan di dalam hati mereka. Rakyat kita sudah terlalu pandai untuk dibohongi. Rakyat sudah sangat maklum benar mana bantuan yang tulus dan mana uluran tangan yang bermuatan seringai dusta. Mana kedatangan seseorang yang menebar berkah dan mana kedatangan yang cuma menyebar tipu daya.

Duh Gusti! Betapa susahnya kita menemukan keikhlasan di tengah kelaraan yang teramat sangat ini. Duhai! Betapa sulitnya memaknai sikap ikhlas dan betapa susahnya mendefinisikan ketulusan dalam kehidupan nyata. Mereka yang tulus, hidupnya mengalir seperti air bah, menerjang apa saja yang ada di depannya. Untuk apa yang dia perbuat, dia sudah melupakan apa yang disebut dengan pujian dan cercaan. ”Amalnya tak lagi memberi ruang bagi lahirnya pujian atau cercaan,” kata Dzun Nun al-Mishry.

Dia akan tetap bekerja sesuai pesan Allah, meski manusia di sekitarnya memberikan pujian atau malah mencelanya. Sejatinya, Indonesia amat membutuhkan orang seperti ini untuk dijadikan pemimpin yang dapat mengeluarkan bangsa dari deraan krisis yang tiada henti. Pemimpin semacam ini akan selalu bekerja sesuai amanat rakyat, meski dia sadar tak ada orang yang memujinya. Dia selalu bekerja tanpa kompromi terhadap pelanggar dan pengkhianat rakyat, meski tahu akan dicerca banyak orang, bahkan oleh koleganya. Kini penyakit berbahaya itu seperti gerombolan srigala berbulu domba yang tak pernah berhenti mengintai dan siap menerkam saudara kita korban lumpur panas.

Sungguh sulit mencari pemimpin semacam ini. Sampai janji imbalan yang disiapkan Allah sekali pun, ia tidak akan memperhitungkannya. Dia tidak pernah berdagang dengan Allah dalam setiap amalnya. Amalnya benar-benar dilakukan bukan karena pujian dan cercaan, melupakannya setelah beramal bahkan tak peduli dengan hak pahala yan telah dijanjikan Allah kepadanya. Sungguh! Keikhlasan amat tidak perlu ditampak-tampakkan karena semakin mengklaim dirinya ikhlas, kadar keikhlasannya justru semakin menurun.

Ibarat spiritus, begitu tutupnya dibuka, langsung menguap. Orang ikhlas, biar dibilang tidak ikhlas tidak akan membela diri, sebab kalau dia marah karena dikatakan tidak ikhlas, itu tanda-tanda ketikadikhlasan. Dari pecah dan sobeknya perut bumi di Porong dan sekitarnya, kita bisa menyaksikan dengan mata telanjang siapa di antara kita yang ikhlas dan tulus. Semoga Allah menghiasi hidup kita dengan keikhlasan dan ketulusan jiwa. Wallaahu A’lamu Bishshowaab.

( KH A Hasyim Muzadi )

Published in:  on August 21, 2007 at 6:33 am Leave a Comment

The URI to TrackBack this entry is: http://hsand.wordpress.com/2007/08/21/kok-masih-ada-yang-berbisnis-musibah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.